Bisnis Online Antara Doa, Tawakal serta Realita Kenyataan Hidup | Alief Education

Kamis, 03 Oktober 2013

Antara Doa, Tawakal serta Realita Kenyataan Hidup


Dalam setiap usaha kita dianjurkan untuk bertawakal kepada Allah swt, namun bagaimana sikap kita ketika merasa kecewa disaat mengalami kegagalan, seolah sia-sia atas apa yang telah kita pejuangkan, Lalu bagaimana cara kita mengukur sampai sejauh mana kadar tawakal kita, dan bagaimana cara bertawakal yang baik, karena seringnya kata tersebuat di sebuta dengan isytilah tak berdaya dan pasrah.
Kata Tawakkal terambil  dari kata wakala  yang juga seakar dengan kata wakil.  perintah bertawakal sama maknanya dengan firmannya yang berbunnyi Jadikanlah dia wakil (Q.S al-Muzamil 73:9).
             
 Apabila seseorang mewakilkan orang lain berarti dia telah menjadikan orang lain itu sebagai sebagaian dari dirinya sendiri dalam persoalan tersebut. sehingga sang wakil melaksanakan apa yang dikehendaki oleh yang menyerahkan kepadnya perwakilan tersebut. Menjadikan Allah sebagai wakil, ataupun bertawakal kepada-Nya berarti menyerahkan segala persoalan kepada-Nya maka Dialah yang berkehendak dan bertindak sesuai dengan "kehendak" manusia yang menyerahkan perwakilan itu.
makna ini dapat menimbulkan kesalahpahaman tentang maksud yang sebenarnya jika tidak dijelaskan lebih jauh tentang apa mkna bertawakal itu sendiri, seperti kesalahpahaman mereka yang menduga bahwa bertawakal berarti pasrah dan tidak berdaya. Harus diingat bahwa keesaan Allah berarti, antara lain, bhwa antara Dzat, sifat dan perbuatan-Nya Esa sehingga ketiganya antra Dzat, sifat dan perbuatan tidak bisa dipersamakan dengan perbuatan manusia, walaupun pemahamannya mungkin sama.
sebagai contoh sifat kasih Allah atau Kemurahan-Nya (Allah Maha Pengasih dan maha Pemurah). Kasih dan pemurah dapat saja menjadi sifat makhluk, namun hakikat dan kapasitas kasih dan pemurahan Allah tidak dapat dipersamakan degan sifat Makhluk, karena mempersamakan sifat dapat menggugurkan makna  keesaan itu (na'udzubillah). Allah swt yang kepada-Nya diwakilkan segala persoalan adallah dzat yang maha kuasa, maha mengetahui, maha bijaksana, dan segala "maha" yang mengandung makna pujian. Manusia sebaliknya yang memiliki segala keterbatasan dalam segala hal. Dengan demikian tawakkal, bertawakkal atau berpasrahh atau "perwakilan"-Nya pun berbeda dengan perwakilan manusia.
Benar bahwa wakil atau perwakilan diharapkan atau dituntut untuk dpat memenuhi kehendak dan harapann yang mewakilkan kepadanya. Namun karena dalam perwakilan manusia" sering kali" atau paling baik "boleh jadi" yang mewakilkan lebih tinggi kedudukan dan atau pengetahuannya dari sang wakil maka dia dapat saja menarik kembali perwakilanya, bila  dia mmeraasa__berdasarkan pengetahuan dan keinginannnya___bahwa tindakan tersebut merugikan. Akan tetapi Akan menjadi lain soal jika seseorang menjadikan Allah sebagai wakil, maka hal serupa tidak akan terjadi, karena sejak semula ia sudah menyadari akan keterbatasannya, dan menyadari pula maha kemutlkan Allah swt, karena itu apakah dia tahu mengenai hikmah suatu perbuatan tuhan, dia akan menerimanya dengan sepenuh hati.
Kata Tawakkal bukanya berarrti makana penyeraha diri tanpa usaha manusia terlebih dahulu “Tambatkanlah terlebih dahulu (untamu) kemudian setelah itu bertawakkallah” (H.R at-Thirmidzi), demikian sabda Nabi kepada seseorang yang tidak menambatkan untanya dengan dalih bertawakkal
Menjadikn_Nya menjdi wakil berarti seseorang harus meyakini bahwa Allah yang mewujudkan segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini.
Anda boleh berusaha dengan batas-batas yang dibenarkan disertai degan ambisi yang meluap-luap untuk meraih sesuatu , tetapi ____krtika anda gagal meraihnya___janganlah meronta dan janganlah berputus asa serta melupakan anugerah Allah swt, yang selama ini telah anda capai dan nikmati.
Perintah bertawakkal kepada Allah swt dalam bentuk tunggal terulang dalam Alquran sebanyak sembilan kali dan dalam bentuk jamak (tawakkaluu) terulang sebanyak dua kali. Kesemuannya dapat dapat dikatakan dapat didahului oleh peritah melakukan sesuatu baru kemudian disusu dengan perintah untuk bertawakkal. Semisal dalam Q.S al_Maidah (5):23 serbulah mereka memlalui pintu gerbang (Kota), maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang dan hanhya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman.
Disini sudah jelas bahwa agama bukan menganjurkan ____dengan perintah bertawakkal ___agar seseorang tidak berusaha atau mengabaikan hukum-hukum sebab akibat. Tidak!! Islam hanya menganjurkann umatnya untuk hidup dalam realita yang menunjukan bahwa, tanpa usaha tidak mungkin akan tercapai suatu harapann, dan tak d gunany berlarut-larut dalam kesedihan jika realita tidak dapat di ubah laggi,.. Wallahu ‘alamm.,_

2 komentar

Postingan yang bagus Alief. Moga sukses terus. ( Hasbiallah wanikmal wakil )

benar itu.. tawakal harus seiring dengan usaha..