Bisnis Online Takdir dan Kenyataan | Alief Education

Kamis, 13 September 2012

Takdir dan Kenyataan


ketika manusia telah di batasi oleh dinding sebuah takdir, tak banyak manusia yang mampu menghindarinya.
walaupun kata-kata sebuah syair bahwa sebuah "takdir itu memang kejam" seolah-olah Allah hanya menciptakan bahwasanya sebuah takdir itu adalah sesuatu yang sangat di takuti atau pun sesuatu yang sangat tidak mau orang mengalami takdir tersebut, karena seorang manusia tidak mau di batasi oleh sebuah takdir, manusia dikaruniai nafsu yang mana nafsu itu akan selalu mengajak manusia ke jalan ketidakpuasan atas rizky dan karunia yang telah ia dapatkan. walaupun pada hakikatnya manusia dikaruniai akal dan nafsu namun sebagian besar dan tidak sedikit manusia yang hanya mengedepankan nafsunya sendiri daripada akal.
Lalu seberapa manakutkankah sebuah takdir itu? wallau 'alam
jika kita tengok pada firman allah bahwasanya Allah tidak akan mengubah takdir seseorang tanpa seseorang tersebut ,mengubahnya sendiri

mungkin bisa dikatakan bahwa allah tidak akan pernah menurunkan takdir kepada manusia sebelum ada usaha dari manusia itu sendiri, QOdo dan Qodar, jadi sejauh mana manusia bisa terhidar dari takdirnya sendiri karna sebuah takdir adalah rahasia sang Kholiq yang manusia tidak akan pernah bisa menembus tirai takdir tersebut , jadi berwaspadalah kalian dalam hidup. 
Walaupun Pasa hukun NAS-nya manusia sebelum terlair ke dunia sudah di tuliskan takdir ketika masih dalam kandungan sang Ibu,
tetapi kembali lagi pada hakikat sebagai makhluq sampai kapanun dan entah sampai kapanpun kita tidak bisa menembus takdir, kita tidak tahu apa yang telah di tuliskan takdir pada hidup kita kelak, lalu setelah sang kholiq menuliskan garis takdir kita, maka Allah memberikan sebuah karunia yaitu kebebasan kebebasan dalam hidupkita di kasih akal untuk berfikir Wala taiasu dan janganlah kamu berputus asa,kita bisa ambil spirit dari firman tersebut.
Walaupu hidup kita sudah digariskan oleh sebuah takdir, namun kita tidak tahu takdir kita sendiri itu seperti apa, jadi hiduplah kita sebagai manusia yang bertanggung jawab, tanggung jawab kpada sang pencipta, tanggung jawab kepada sesama dan tanggung jawab kepada diri sendiri, berusahalah menjadi manusia yang bermanfaat, manfaat diri sendiri dan orang lain, sejenak kita simpan sejenak yang namanya takdir, takdir kita jadikan sebuah simpanan yang entah sampai kapanpun kita takkan pernah tahu isinya, jangan perna kita takuti sebuah takdir pahit manisnya takdir adalah urusan nanti, yang sekarang terjadi adalah masa kita sendiri, jalan kita, dan hidup kita, selalu hidup positif. belajar dari masa lalu hidup untuk sekarang dan berharap untuk masa depan.jalani hidup kita apa adanya dan selalu berusaha yang terbaik dan biarkanlah takdir yang menentukan hasil akhirnya.
''Biarkan Masa Depan Datang Sendiri''
 {Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya.} (QS. An-Nahl: 1) 

Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi! Apakah Anda mau mengeluarkan kandungan sebelum waktunya dlkAhirkan, atau memetik buah-buahan sebelum masak? Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba, belum berwujud, dan tidak memiliki rasa dan warna. 

Jika demikian, mengapa kita harus menyibukkan diri dengan hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan yang mungkin akan terjadi padanya, memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya, dan meramalkan bencana-bencana yang bakal ada di dalamnya? Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak, dan apakah hari esok kita itu akan berwujud kesenangan atau kesedihan? Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam gaib dan belum turun ke bumi. Maka, tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum sampai di atasnya. Sebab, siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi kita akan terhenti jalan kita sebelum sampai ke jembatan itu, atau mungkin pula jembatan itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai di atasnya. Dan bisa jadi pula, kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudian menyeberanginya. 

Dalam syariat, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa depan dan membuka-buka alam gaib, dan kemudian terhanyut dalam kecemasan-kecemasan yang baru di duga darinya, adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. Pasalnya, hal itu termasuk thulul amal (angan-angan yang terlalu jauh). Secara nalar, tindakan itu pun tak masuk akal, karena sama halnya dengan berusaha perang melawan bayang-bayang. Namun ironis, kebanyakan manusia di dunia ini justru banyak yang termakan oleh ramalan-ramalan tentang kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit dan krmjekonomi yang kabarnya akan menimpa mereka. Padahal, semua itu hanyalah bagian dari kurikulum yang diajarkan di "sekolah-sekolah setan".

 {Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia.} (QS. Al-Baqarah: 268) 

Mereka yang menangis sedih menatap masa depan adalah yang menyangka diri mereka akan hidup kelaparan, menderita sakit selama setahun, dan memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal, orang yang sadar bahwa usia hidupnya berada di 'genggaman yang lain' tentu tidak akan menggadaikannya untuk sesuatu yang tidak ada. Dan orang yang tidak tahu kapan akan mati, tentu salah besar bila justru menyibukkan diri dengan sesuatu yang belum ada dan tak berwujud.

Bi
arkan hari esok itu datang dengan sendirinya. Jangan pernah menanyakan kabar beritanya, dan jangan pula pernah menanti serangan petakanya. Sebab, hari ini Anda sudah sangat sibuk. Jika Anda heran, maka lebih mengherankan lagi orang-orang yang berani menebus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit di dalamnya dengan bersedih pada hari ini. Oleh karena itu, hindarilah anganangan yang berlebihan. 

Wallahu'alam bisshoab.