Dalam setiap usaha kita dianjurkan untuk
bertawakal kepada Allah swt, namun bagaimana sikap kita ketika merasa kecewa
disaat mengalami kegagalan, seolah sia-sia atas apa yang telah kita pejuangkan,
Lalu bagaimana cara kita mengukur sampai sejauh mana kadar tawakal kita, dan
bagaimana cara bertawakal yang baik, karena seringnya kata tersebuat di sebuta
dengan isytilah tak berdaya dan pasrah.
Kata Tawakkal terambil
dari kata wakala yang juga seakar dengan kata wakil.
perintah bertawakal sama maknanya dengan firmannya yang berbunnyi Jadikanlah
dia wakil (Q.S al-Muzamil 73:9).
Apabila seseorang mewakilkan orang lain berarti dia telah menjadikan orang lain itu sebagai sebagaian dari dirinya sendiri dalam persoalan tersebut. sehingga sang wakil melaksanakan apa yang dikehendaki oleh yang menyerahkan kepadnya perwakilan tersebut. Menjadikan Allah sebagai wakil, ataupun bertawakal kepada-Nya berarti menyerahkan segala persoalan kepada-Nya maka Dialah yang berkehendak dan bertindak sesuai dengan "kehendak" manusia yang menyerahkan perwakilan itu.
makna ini dapat menimbulkan kesalahpahaman
tentang maksud yang sebenarnya jika tidak dijelaskan lebih jauh tentang apa
mkna bertawakal itu sendiri, seperti kesalahpahaman mereka yang menduga bahwa
bertawakal berarti pasrah dan tidak berdaya. Harus diingat bahwa keesaan Allah
berarti, antara lain, bhwa antara Dzat, sifat dan perbuatan-Nya Esa sehingga
ketiganya antra Dzat, sifat dan perbuatan tidak bisa dipersamakan dengan
perbuatan manusia, walaupun pemahamannya mungkin sama.
sebagai contoh sifat kasih Allah atau
Kemurahan-Nya (Allah Maha Pengasih dan maha Pemurah). Kasih dan pemurah dapat
saja menjadi sifat makhluk, namun hakikat dan kapasitas kasih dan pemurahan
Allah tidak dapat dipersamakan degan sifat Makhluk, karena mempersamakan sifat
dapat menggugurkan makna keesaan itu (na'udzubillah). Allah swt yang
kepada-Nya diwakilkan segala persoalan adallah dzat yang maha kuasa, maha
mengetahui, maha bijaksana, dan segala "maha" yang mengandung makna
pujian. Manusia sebaliknya yang memiliki segala keterbatasan dalam segala hal.
Dengan demikian tawakkal, bertawakkal atau berpasrahh atau "perwakilan"-Nya
pun berbeda dengan perwakilan manusia.
Benar bahwa wakil atau perwakilan diharapkan atau
dituntut untuk dpat memenuhi kehendak dan harapann yang mewakilkan kepadanya.
Namun karena dalam perwakilan manusia" sering kali" atau paling baik
"boleh jadi" yang mewakilkan lebih tinggi kedudukan dan atau
pengetahuannya dari sang wakil maka dia dapat saja menarik kembali
perwakilanya, bila dia mmeraasa__berdasarkan pengetahuan dan
keinginannnya___bahwa tindakan tersebut merugikan. Akan tetapi Akan menjadi lain
soal jika seseorang menjadikan Allah sebagai wakil, maka hal serupa tidak akan
terjadi, karena sejak semula ia sudah menyadari akan keterbatasannya, dan
menyadari pula maha kemutlkan Allah swt, karena itu apakah dia tahu mengenai
hikmah suatu perbuatan tuhan, dia akan menerimanya dengan sepenuh hati.
Kata Tawakkal bukanya berarrti makana penyeraha
diri tanpa usaha manusia terlebih dahulu “Tambatkanlah
terlebih dahulu (untamu) kemudian setelah itu bertawakkallah” (H.R
at-Thirmidzi), demikian sabda Nabi kepada seseorang yang tidak menambatkan
untanya dengan dalih bertawakkal
Menjadikn_Nya menjdi wakil berarti seseorang
harus meyakini bahwa Allah yang mewujudkan segala sesuatu yang terjadi di alam
raya ini.
Anda boleh berusaha dengan batas-batas yang
dibenarkan disertai degan ambisi yang meluap-luap untuk meraih sesuatu , tetapi
____krtika anda gagal meraihnya___janganlah meronta dan janganlah berputus asa
serta melupakan anugerah Allah swt, yang selama ini telah anda capai dan
nikmati.
Perintah bertawakkal kepada Allah swt dalam
bentuk tunggal terulang dalam Alquran sebanyak sembilan kali dan dalam bentuk
jamak (tawakkaluu) terulang sebanyak
dua kali. Kesemuannya dapat dapat dikatakan dapat didahului oleh peritah melakukan
sesuatu baru kemudian disusu dengan perintah untuk bertawakkal. Semisal dalam
Q.S al_Maidah (5):23 serbulah mereka
memlalui pintu gerbang (Kota), maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan
menang dan hanhya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar
orang yang beriman.
Disini sudah jelas bahwa agama bukan menganjurkan
____dengan perintah bertawakkal ___agar seseorang tidak berusaha atau
mengabaikan hukum-hukum sebab akibat. Tidak!! Islam hanya menganjurkann umatnya
untuk hidup dalam realita yang menunjukan bahwa, tanpa usaha tidak mungkin akan
tercapai suatu harapann, dan tak d gunany berlarut-larut dalam kesedihan jika
realita tidak dapat di ubah laggi,.. Wallahu
‘alamm.,_

2 komentar
Postingan yang bagus Alief. Moga sukses terus. ( Hasbiallah wanikmal wakil )
benar itu.. tawakal harus seiring dengan usaha..